Catatan Kaki

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 November 2012

Bidadari itu

aku rindu pada seorang wanita yang tak pernah kutemui tak pernah kucumbu tak pernah sedikit pun seberkas senyumnya kujemput tak juga dirinya kurayu dalam haru birunya cinta palsu

engkaukah bidadari itu?

Senin, 19 November 2012

Dunia Kertas

jika tuhan tahu aku malu
kutahu hanya masa lalu
mimpi-mimpi


masa depanku masa tak kutahu

siang menjadi abu; malam menjadi ratu
pena kering menyayat dunia kertas
tinta akal banjiri pikiran
meluap hingga kalbu

Minggu, 18 November 2012

Susah-Mudah

tak mudah
menepis arah
sudah
susah
setiap ada dicipta tiada
resah lelah
sumpah

Jumat, 16 November 2012

Agen Neptunus

kumasuki alam imajinasi
temani mimpi
kulukis wajah-wajah, peri
saat hujan memberinya arti, jiwa
tentang seseorang dalam misteri hati
kutulis saja dengan kata, rasa

lembar demi lembar ini
kubuat perahu
saat realita mencariku...
perahu kertas ini melaju
melepas apa yang terbatas
semoga neptunus puas
samudera luas

Kamis, 16 Februari 2012

GAGAK LUMAYUNG

Sepi…
pertumpahan darah
di mana `kan kubunuh sepi itu
hingga tiada lagi perang tak berarti, mengosongkan tanah suatu negeri kemudian diisi sepi
tak ingin lagi urat nadi kesombongan
mengurat erat menyetubuhi kekuasaanku

kau dengar jeritan-jeritan nafsu kekuasaan
melilit sakit dalam kesaktian
Dengar Prabu!
detak jantungku layak dentuman meriam
Dengar Prabu!
sepi memulai perang batin ini

Gagak terbang saat lembayung jiwa
ke timur menyandang gelar, menyambut lawan
akhiri perang dari segala perang yang ada

dia kembali jadi manusia mati yang tinggalkan nama
Keyan Santang, Garantang Sentra, Gagak Lumayung
sang Prabu mati tinggalkan belang
di belantara
mitos mati tinggalkan sepi
dunia ini

Rabu, 11 Februari 2009

Kaki Gunung Pencarian

Mendaki gunung khayal
menapaki tanah hijau belantara rasa
mimpi menyiangiku dari putus asa
kemungkinan wujud apapun
hadir dan nyata, mengapa

jauh, jauh, jauh
tinggal
mencari arah tuk pulang

jika

Apakah ada waktuku mengangkat gunung itu
ada waktu untuk mencuri bintang gemintang
mengambilnya dari bulan

Hatiku lemah dihadapkan pada keagunganmu
tubuhku limbung dihadapkan kebesaranmu
aku seperti rumput
terkadang gersang
merindudkan air, tanah, udara, dan cahaya.

tak peduli

Mencari upah dari segala susah. Aku bilang anjing untuk pusing yang terlalu asing. Tak putus urat peluh. Tak juga rasa malu. Bersandar berusaha sadar, mengingat waktu tak kuulur. Bersandar lalu tidur. Kubunuh waktu itu.
Riak air kudengar. Membasuhku dari segala mimpi. Sunyi. Sepi tiada arti. Rindukan hanya diriku dan waktu yang mengalir seperti air itu.