aku rindu pada seorang wanita yang tak pernah kutemui tak pernah kucumbu tak pernah sedikit pun seberkas senyumnya kujemput tak juga dirinya kurayu dalam haru birunya cinta palsu
Sepi… pertumpahan darah di mana `kan kubunuh sepi itu hingga tiada lagi perang tak berarti, mengosongkan tanah suatu negeri kemudian diisi sepi tak ingin lagi urat nadi kesombongan mengurat erat menyetubuhi kekuasaanku
kau dengar jeritan-jeritan nafsu kekuasaan melilit sakit dalam kesaktian Dengar Prabu! detak jantungku layak dentuman meriam Dengar Prabu! sepi memulai perang batin ini
Gagak terbang saat lembayung jiwa ke timur menyandang gelar, menyambut lawan akhiri perang dari segala perang yang ada
dia kembali jadi manusia mati yang tinggalkan nama Keyan Santang, Garantang Sentra, Gagak Lumayung sang Prabu mati tinggalkan belang di belantara mitos mati tinggalkan sepi dunia ini
Apakah ada waktuku mengangkat gunung itu ada waktu untuk mencuri bintang gemintang mengambilnya dari bulan
Hatiku lemah dihadapkan pada keagunganmu tubuhku limbung dihadapkan kebesaranmu aku seperti rumput terkadang gersang merindudkan air, tanah, udara, dan cahaya.
Mencari upah dari segala susah. Aku bilang anjing untuk pusing yang terlalu asing. Tak putus urat peluh. Tak juga rasa malu. Bersandar berusaha sadar, mengingat waktu tak kuulur. Bersandar lalu tidur. Kubunuh waktu itu. Riak air kudengar. Membasuhku dari segala mimpi. Sunyi. Sepi tiada arti. Rindukan hanya diriku dan waktu yang mengalir seperti air itu.