Catatan Kaki

Sabtu, 17 Maret 2012

"The Art of Getting by" (Review)


Seorang introver harus berjuang menghadapi kehidupannya. Hidup dengan kesendiriannya membuat dia menjauhi dunia luar. Karakter George Zinavoy ialah seorang anak sekolah tingkat menengah atas yang 'tanpa masa depan', pengharapan, dan rutinitas kebanyakan orang. Dunia ini hanyalah sebuah ilusi baginya, setelah dia memercayai itu semua dari apa yang dibacanya ketika kecil. Dunia seni (lukis) menjadi teman kesendiriannya sekaligus dari menghadapi pergumulan batinnya. Antara 'keanehan'-nya, orangtua, dan proses studinya merupakan perpaduan jalinan konflik dalam film ini. Dibalut dengan kekuatan asmara terhadap Sally (teman sesekolahnya), George harus lebih berani dalam menghadapi kenyataan yang ada walau tidak menyenangkan hatinya. Pengungkapan kejujuran yang dilakukan George adalah kunci bahwa dia mampu merepresentasikan tentang siapa dirinya itu, di tengah lingkungan sosialnya.
      Karakter Goerge Zinavoy ini diperankan oleh aktor yang biasa membintangi film bergenre drama sejak masih cilik, yaitu Freddie Highmore. Freddie di sini harus beradu akting dengan Emma Roberts (Sally), sebagai orang yang tiba-tiba hadir dalam kehidupannya juga harus mengisi ruang hatinya. Akhirnya dalam film ini, George harus berjuang dan memilih jalan keluar bersama idealismenya itu untuk menyelesaikan konflik yang cukup rumit dalam kehidupannya ini. Terutama, masalah cintanya kepada Sally.
      Film yang berdurasi kurang lebih satu jam setengah ini diproduksi oleh Fox Searchlight Pictures di tahun 2011 yang lalu. Gavin Wiesen adalah sutradara sekaligus penulis film bergenre drama (kehidupan) remaja ini. Akting Freddie di sini tidak kalah menariknya dengan film-film yang telah dibintanginya, seperti August Rush.  









Rabu, 07 Maret 2012

Wayang Kembali Terbang

Siapa yang tak mengenal wayang? Mungkin ada yang tak mengenalnya sekarang di tanah air ini? Ya, wayang dijabarkan dalam KBBI sebagai boneka tiruan untuk memerankan tokoh di dalam pertunjukkannya. Sebagian bergantung dari bahan boneka tiruan itu, wayang pun diklasifikasikan menjadi beberapa jenis: wayang kulit dan wayang golek (kayu; Jawa Barat). Dahulu keberadaan seni pertunjukkan ini sangat digemari dan merupakan kebudayaan yang tinggi nilainya di tengah masyarakat nusantara (Indonesia).
      Sekarang, masihkah ada yang mengenal wayang dan jenisnya? Ya, di sinilah sebuah pembahasan tentang eksistensi budaya kita ini perlu mendapat apresiasi dan sambutan dari masyarakat bangsa ini.
       Pada halaman pertama koran Kompas tertanggal 26 Februari 2012 yang lalu, media ini berusaha menyajikan pemberitaan yang menarik tentang bentuk kebudayaan wayang kita itu. Intinya, media ini memaparkan bagaimana keberlangsungan salah satu bentuk wayang kita yang disebut wayang wong (orang) berusaha tampil kembali di tengah hiruk-pikuk budaya populer di tanah air. Walaupun wayang lambat-laun memasuki keuzurannya, namun dengan tindakan dan sikap semangat regenerasi budaya ini oleh pewarisnya dapat saja eksistensinya kembali bersinar di tengah masyarakat saat ini. Khususnya generasi muda kita yang dipaparkan dalam pemberitaan itu. Dengan melakukan pengadaptasian yang apik oleh para penggiatnya (seperti dalam pemberitaan Kompas hari itu) menurut saya kemungkinan wayang kita masih bisa terbang layaknya Superman atau Ironman.